Categories
Uncategorized

First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Categories
Uncategorized

The World of Childhood

Hari itu Nana terpuruk, dan sepertinya itu adalah hari keenam nya. Dia bungkam, tak jelas ingin nya apa. Jadi tiada lagi yang memperhatikannya, tak ada yang bertanya kenapa, tak ada yang simpati mengelus pundak nya, bahkan tak ada yang sekalipun berpura-pura sekedar menyapa. Semua seakan sudah tak peduli.

Hari ketujuh tiba, Ia mulai mendekat pada teman yang selalu menjadi mangsa nya ketika ia terjatuh, Diana. Ia mulai membuka perbincangan setelah lama bungkam. Sambil berderai air mata, ia bertanya, “Di, kamu pernah gak benci seseorang??”

Diana mulai tersenyum bahagia mendengar prolog yang sudah ia prediksi akan menjadi novel tebal jika ia menuliskannya. Diana menjawab “Pasti dong, cuma para nabi deh kayak nya yang gak pernah membenci”. Diana memulai aksi sotoy nya.

“Sampai kamu doain orang itu cepet mati??” lanjut Nana. Diana tersentak dan mulai membaca bahwa kasus yang dihadapinya bukan kasus biasa. “Gak pernah siih” jawab nya pelan sambil menghela nafas.

“Dosa ya kalau kaya gitu??” Nana mulai berkaca lagi. “Tergantung tergantung, tergantung apa sebab nya, dan tergantung usaha kamu untuk memaafkan nya. Marah itu manusiawi, tapi tugas manusia adalah belajar memaafkan”. Segera Diana memeluknya dan menepuk nepuk bahu Nana. Nana mulai terisak.

“Aku takut, aku telah mendoakan orang yang melahirkan ku untuk cepat mati Di”. Diana sontak melepaskan pelukannya dan berkata “Astagfirullah Naaa.. Kamu gak salah doa??? Cepet cabuut doa ituuu, sebenci apapun kamu..” Nana semakin menjadi. Diana sadar dia salah sudah spontan menghakimi Nana. Dia mulai menepuk-nepuk pundak Nana dan bergumam tenang, “Coba tarik nafas, tahan sambil istigfar lalu keluarin. Kalau butuh cerita, aku siap dengerin ya..” Nana mulai mengikuti intruksi, tangisnya mereda. Dan ia mulai bercerita.

“Pekan lalu, Ibu ditangkep warga, kepergok melakukan hal gak senonoh dengan tetangga. Ini bukan yang pertama kali, Ibu sering melakukannya. Dia seperti haus akan kepuasan sementara. Warga selalu mengampuninya, karena Ibu selalu berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kemarin Ibu hampir dijatuhi hukuman rajam, tapi ayah menangis sambil memohon untuk mengampuninya dengan dalih beliau sudah memaafkannya” Nana terisak sesekali ketika menyebut nama ayah nya. Diana menyimak dengan seksama, tanpa disadari air matanya mengalir.

“Aku membayangkan ayah yang melindungi Ibu sambil menangis, aku tak kuat Di, bayang bayang ayah menghantui setiap malam ku. Ingin rasanya berada di dekatnya lalu mengatakan, Ayah mari tinggalkan ibu. Tapi aku tak sanggup karena ayah akan mengeluarkan 1.000 alasan nya mempertahankan Ibu. Dari mulai alasan agama, nilai sosial, sampai memikirkan masa depan kami sebagai anak nya. Ayah tak ingin keluarga kami dilabeli broken home, padahal nyata nya keadaan kami sudah lebih dari itu. Aku kenyang dengan masa kecil yang menutup telinga karena pertengkaran ayah dan Ibu. Aku mual dengan tangis buaya Ibu yang meminta maaf setelah berkali-kali meladeni suami orang. Aku jijik dengan pelukan ayah pada Ibu tanda ia memaafkan nya. Aku.. Aku.. Aku… ” Tangis Nana pecah. Dada Diana juga mulai naik turun tak karuan. Dia menahan amarah sekaligus menahan tangis agar tak terkesan menambah beban Nana. “Cup cup cup, kalau gak kuat, gak usah diterusin ya Na..” Diana hanya mampu mengatakan itu.

“Aku takut Dii.. Aku takut di darah ku mengalir darah busuk Ibu.. Aku takut menjadi seperti Ibu… Aku takuuut hiii hiiii hiii” Nana benar benar tak sanggup melanjutkan kata kata nya. Diana hanya terus mengelus pundak nya. “Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan Na, teruslah berbagi, agar kamu tak menanggung nya sendiri.. Aku akan menjaga rahasia ini” Diana mulai menguatkan.

“Terimakasih Di..” Nana melepaskan pelukannya. Lalu melanjutkan cerita dengan bertanya “Di, kamu inget kan aku gak pernah nganggep adek aku??”

“Ooh Lili?? Iya iya aku heran kamu bertengkar terus, kamu kejam, suka manggil dia bodoh lah, dan kayak nya dia gak ada baik baik nya buat kamu. Awalnya aku kira kamu bercanda, tapi pas kamu dorong kepala dia, aku yakin kamu bener-bener benci. Apa salah Lili Na??” Jawab Diana panjang lebar. “Dia bukan adik ku, dan aku gak akan pernah ngakuin dia sebagai adik, karena kita berbeda ayah. Dia bukan anak ayah ku. Dia hasil perbuatan bejat nya Ibu dengan orang lain. Aku masih ingat waktu itu. Usia ku 7 hampir 8 tahun. 6 bulan sebelum Lili lahir, pertengkaran hebat terjadi antara ayah dan Ibu. Aku tak banyak menangkap pertengkaran itu karena aku menutup telinga. Namun ketika aku ingin masuk kamar, Ibu mengatakan bahwa ada bayi haram di dalam rahim Ibu saat ini. Aku kaget, karena aku ingin punya adik, tapi aku tidak ingin anak haram itu. Aku tak pernah merasakan ada ledakan besar dalam hati sebesar ledakan hari itu. Aku mencoba tak menghiraukan dengan pergi bermain dengan teman-teman tetanggaku. Tapi ternyata aku salah, aku malah melampiasakan kemarahan ku pada teman bermain ku, aku menghancurkan boneka mereka, memporak porandakan alat masak-masakan mereka dan setelah itu aku menangis tanpa sebab. Semua heran dan memanggil ayah ku. Tak lama ayah datang dan menggendong ku. Aku pun mulai tenang di pangkuan nya.” Tutur Nana dengan pandangan kosong. Diana merasakan betapa berat hari itu untuk Nana.

“Apa Lili tau tentang itu?” Diana tak sabar menanahan pertanyaan itu. Nana hanya menggeleng. “Dia menyanyangiku seperti kaka nya sendiri, dia selalu memberi ku hadiah sederhana, dia mengucapkan selamat ulang tahun dan tak lelah menyambutku setiap aku datang dari luar kota.” papar Nana dengan senyuman hambar nya. “Tapi itu tak meluluhkan hati ku” tambahnya. “Aku justru semakin benci pada Ibu yang telah melahirkan adik semanis dan sebaik dia, aku seakan tidak rela Lili lahir dari rahim nya”. Diana mencoba mengangguk tanda memahami sitausi Nana. “Na, akan ada waktu di mana Tuhan membuka hati mu untuk Lili. Lili tidak salah, dia taunya kamu adalah kaka terbaik yang dia punya. Dia cuma korban, sama seperti kamu. Jangan biarkan masa kecilnya sama seperti yang kamu rasakan. Suatu hari nanti, jika hati mu sudah menyadari bahwa Lili itu tidak bersalah, jadilah pelindung nya.” Tukas Diana sambil memeluk Nana yang menyahut nya dengan anggukan. “Makasih Di, udah mau dengerin cerita aku.. Aku gak tau lagi harus ngapain sekarang.” Nana melepas pelukan nya.

“Sharing sesi pertama itu bukan untuk mencari solusi, tapi kita berbagi beban terlebih dahulu agar persepsi kita terhadap masalah itu sama, sesi sesi selanjutnya baru kita cari solusi nya ya.. Oh ya, tugas kamu sekarang mencabut doa buruk untuk Ibu mu. Gak boleh kayak gitu sama orang tua, oh ya terus coba telepon ke rumah buat ngobrol sebentar sama Lili, mungkin dia juga butuh temen cerita setelah kejadian yang menimpa Ibu mu baru baru ini.” Saran Diana.

“Oke, nanti malem kali ya, pas aku bener-bener udah tenangan. Biar aku juga bisa nenangin Lili kayak kamu nenangin aku Di. Makasih banyak ya Di. Bantu doa untuk orang tua aku. Semoga doa mu jadi kebaikan untuk orang tua kamu juga..” Pinta Nana

“Amiiiien” mereka berdua tersenyum lega.

Categories
Uncategorized

Delayed Gratification (Besar Usia Namun tak Dewasa)

Seseorang berkata, “Andai dulu saya lebih sabar sedikit untuk menunggu pendaftaran kedua di sebuah universitas, pasti saya sudah menjadi pakar Ilmu tertentu”
Yang lainnya berkata,
“Saya gak suka peraturan ini”
“Kok saya merasa diberi tugas lebih banyak dari yang lain ya?”
“Saya suka seminar ini, tapi saya gak nyaman kalau harus mengikuti rules panitia, lebih baik pulang”
Bla blab bla.. dan banyak lagi.

Tidak masalah dengan banyak keluhan, karena memang manusia diciptakan selalu mengeluh. Tapi tidak kah anda ingat bahwa manusia juga diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan lho. Tinggal kita menyadarinya atau tidak.

Menanggapi omelan-omelan di atas saya suka berpikir bahwa usia di atas 20 tahun, masa dewasa dini atau akhir remaja bukan lagi waktunya untuk menyikapi permasalahan dengan jurus suka tidak suka, atau mengeluhkan keadaan diri dengan berandai-andai menjadi superhero di tengah wabah seperti di film-film Hollywood. Tapi kenapa tidak berpikir sejenak dan melihat apakah hal yang tidak kita suka ini bermanfaat untuk orang banyak? Atau dari pada berandai-andai mengapa tidak merangkai kembali mimpi yang tertunda dan bersabar menekuni nya?

Tidak sesimpel itu memang.

Delayed gratification itu tentang skill atau bahkan karakter yang sudah hadir dari sejak usia dini. Tapi, kemampuan ini bisa dilatih, bahkan jika kamu seorang muslim banyak sekali konsep dalam islam yang selaras dengan delayed gratification ini. Serius deh!

Ini adalah Sebuah istilah yang sangat familiar bagi teman-teman yang membaca Pshycology Literature atau bergelut di bidang Pendidikan Anak Usia Dini. Delayed gratification itu adalah kemampuan untuk secara suka rela mengatur siklus kenyamanan dan ketidaknyamanan sedemikian rupa sehingga kita dapat bersabar dalam ketidaknyamanan sebentar untuk dapat menikmati kenyamanan yang lebih lama.

Saya tidak akan membahas teori ini panjang, silahkan mencari tahu dahulu sebelum melanjutkan membaca.

Pakar psikologi mengatakan bahwa anak dengan skill delay gratification ini akan mampu telaten dalam mengerjakan sesuatu, bertanggung jawab, lebih bersabar dan dapat memahami situasi dan kondisi lebih baik. Bahkan Beth Kobliner mengatakan bahwa skill ini adalah kunci kesuksesan to be a rich person, karena kita mampu bersabar menunggu dengan sepeser uang untuk mendatangkan jutaan uang selanjutnya. Bagi seorang businessman “menunggu” kesuksesan adalah suatu kewajiban, dan tunggu lah kegalalan-kegalan yang akan menimpa pengusaha yang lupa diri untuk menunggu.

Kawan, bagaimana dengan kasus-kasus di atas??

Iya, mereka adalah orang dewasa yang belum atau baru menyadari bahwa sikap menunggu sejenak terkadang adalah pilihan yang tepat. Peraturan yang tidak sejalan dengan keinginan, benci dengan jurusan yang ternyata tidak sesuai minat dan bakat, sikap tidak logis yang diambil hanya karena tidak suka dengan pembuat keputusan, adalah sebuah ekspresi dari ketidakmampuan diri mereka dalam menikmati ketidaknyamanan. Karena ketidaknyamanan memang bukan untuk dinikmati. Namun sebetulnya di usia dini kita sudah berlatih menahan diri menjadi “anak soleh/ah” nya ayah bunda dengan mau disuruh solat sebelum mendapat uang jajan. Di usia remaja kita ditantang harus punya nilai 90 untuk bisa berenang dan bertamasya ketika week end. Nah jika kita lolos ujian tersebut, mengapa di usia dewasa kita tak menyadari bahwa ada sebuah proses untuk menuju apa yang kita inginkan.

Apakah seorang ilmuwan menemukan teori di tong sampah tetangga, Seperti mendapat harta karun? Apakah Bill Gates menggaji para yutuber dengan usia muda yang leha-leha? Apakah para dokter berlaltih membedah di ruang tunggu dengan pisau dapur dalam waktu dua jam? Dan apakah mereka suka melihat darah-darah, belajar siang malam, dan waktu yang lama dalam menempuh pendidikan? Atau apakah seorang penghafal quran lahir dengan hafalannya tanpa jungkir balik, mengalami banyak konflik dan berjuang dengan ayat mutasyabihatnya? Pasti tidak!!!

Maka, bagi kalian yang sudah berkepala dua, merasa gagal dalam banyak hal, merasa hidup tersesat karena salah jurusan, tidak suka dengan pekerjaan karena tidak sesuai passion, masih egois dalam berteman. Sadarilah terlebih dahulu bahwa delay gratification ini harus kita miliki, setelah itu mulai lah berlatih dengan banyak cara seperti puasa dan renungi hikmah nya, membaca banyak kisah inspiratif, piknik sosial lebih banyak, menahan amarah ketika ada sesuatu yang tidak diinginkan, bersabarlah untuk melihat dampak positif dari pekerjaan kita. Menunggulah sambil mengerjakan banyak hal lain yang bermanfaat, atau sambil melakukan apa yang kita suka. Fokuskan diri pada akhir dari sebuah pekerjaan, Franklin Covey mengatakan “begin with the end!” memulai dengan akhir, artinya melangkah dengan tujuan yang pasti. Selama apapun prosesnya, jika kita tau bahwa ada akhir yang baik di sana, mari menyingsingkan lengan baju, mengikat sabuk pengaman, menggunakan pelindung diri, dan jangan lupa untuk memeriksa kesiapan senjata kita, yaitu fisik dan psikis. Pastikan dua senjata ini lengkap dengan melangitnya doa.

Tapi ingat! Konsep ini berlaku hanya jika kita memiliki sesuatu yang jelas kita tunggu. Bukan bak menunggu rembulan di tengah siang. Bukan juga seperti mengharap semua makanan akan datang sebagaimana yang Allah anugerahkan untuk Maryam. Di usia ini, jika kita normal sudah saat nya mengenal kawan dan lawan. Mana yang harus ditunggu dan mana yang harus diabaikan.

Usia memang bukan penentu kedewasaan seseorang, bukan juga indikator keberhasilan. Karena angka 10 pun bukan penentu kepintaran seseorang. Namun jika sudah ada jabatan di pundak kita apakah salah jika kita memantaskan diri dan menyesuaikannya?? Tidak salah bukan??

Delay gratification ini menurut saya adalah sebuah konsep diri yang mahal harga nya. Semua orang bisa berjuang melawan musuh di depan mata, tapi tak banyak yang mampu mengelola gejolak di dalam dada. Apalagi jika ia berkaitan dengan “kenyamanan atau penderitaan”. Habit, lingkungan, mind set, visi dan latihan lah yang akan mengasah kita memiliki skill ini. Kita tak dilahirkan dengan skill ini. Kita hanya dilahirkan dengan fitrah yang selalu condong pada ingin berjuang daripada menyerah. Maka mari mengecek sudah di usia berapa kah kita? Sudah sampai tahap mana kah latihan kita? Atau setinggi apa skill delay gratification kita?

Untuk anda yang berusia di bawah 20 tahun, jangan merasa tenang! Karena justru usia anda adalah masa berlatih agar tak menjadi tua namun tidak dewasa di kemudian hari.

2 Mei 2020
Franshas, CEO of CORET

Categories
Uncategorized

Cita-Cita dan Penghambatnya (Sebuah Kisah Perjalanan)

Sejak kecil, aku ingin menjadi seorang pemain bola, aku ingin menjadi sosok Ronaldo yang hitam dan botak yang terpampang di buku teman lelaki ku. Mereka bilang gaji Ronaldo bisa milyaran, dan sejak itu aku memutuskan ingin menjadi pemain bola supaya memiliki harta yang berlimpah. Betapa aku merasa begitu sedih melihat anak-anak sekarang yang sudah memiliki cita-cita mulia di usia dini. Mereka ingin menjadi hafidz quran, dokter, pembebas al aqsho, dan lain-lain. Aku iri, di usiaku yang ke 10 aku masih berpikir bahwa untuk menjadi kaya harus menjadi pemain bola.

Tak cukup sampai di sana, ada hari yang begitu merubah hidupku di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Hari itu adalah hari terbodoh yang pernah aku ingat. Ketika mata pelajaran bahasa Ingrris, aku menjabarkan sebuah cita-cita terkonyol seantero kelas. Dengan bangganya ku katakan “I want to be a Motorcycle Racer”. Sang guru mengernyitkan dahi dan mencoba memastikan “pembalap motor?” Tanya nya. “Iya” jawab ku yakin dengan anggukan dan mata yang tajam disusul dengan senyuman sambil mengangkat dagu. Seperti biasa beliau memberi kan ekspresi terburuk yaitu mengangkat bibir atas sebelah kiri sambil sedikit mendengus kesal. Aku tak merasa diremehkan, karena ketika itu aku merasa tidak ada yang lebih keren dari orang yang bisa mengendari motor dengan miring semiring-miring nya ketika berada di belokan. Kali ini aku tidak mengenal Valentino Rossi, melainkan kawan yang mengajarkan ku motor -di hari-hari ketika Appa pergi jauh- kerap kali memiringkan motor setiap akan berbelok ke kanan atau ke kiri. Bagi ku itu luar biasa…

Tanpa ku sadari, teman sebangku ku masih berkutat dengan tugas mengarang nya. Ia tidak pernah melepaskan kamus kecil nya bertuliskan 15 Milyar Kosa Kata Bahasa Ingrris. Dia sangat telaten, pendiam, dan selalu menjadi saingan ku di posisi ranking 3 atau 2. Aku tak pernah berharap menjadi juara satu kawan, menurutku itu berlebihan. Jalani saja sesuai kemampuan kita, ranking 2 atau 3 tapi tetap happy bermain setiap waktu. Dari pada mengejar ranking satu tapi harus mengorbankan waktu bermain yang entah akan datang lagi atau tidak di masa depan. Hahah aku memang begitu liar.

Kembali ke teman sebangku. Dia selalu membawa barang antik kecil itu. Sesekali aku meminjam hanya untuk mencari kosa kata yang aneh untuk mencibir teman yang menjengkel kan. Aku mengucapkan nya dengan bahasa inggris agar tak dipahami teman-teman. Aku yakin 100% bahwa pronunciation ku pun salah. Dia selalu meminjamkan nya kepada ku tanpa bercerita apapun. Sampai hari itu tiba, aku mulai penasaran dan bertanya. “Hey, itu kamu kenapa bawa-bawa kamus kecil itu terus?”. Dia menjawab dengan sangat optimis “Ini hadiah dari Appa, katanya aku harus belajar bahasa Inggris biar bisa belajar ke luar negeri”. “Woooow” sontak aku berteriak, “keren keren keren” mata ku berbinar sambil mengangguk-anggukan kepala. Aku bergumam dalam hati. Betapa memalukan nya cita-cita ku menjadi pembalap motor, pemain bola dan cita-cita konyol lainnya. Kenapa tidak pernah terbesit sedikiiiit saja aku akan belajar di luar negeri?? Aku hanya diam seribu bahasa menyaksikan dia yang maju menyerahkan tugas dan kembali dengan pujian sang guru. Aku tak mendengar apa cita-cita nya.
Dalam diam aku mulai menulis, “Aku juga ingin belajar di luar negeri”. Aku selalu menjadikan teman hebat ku ini sebagai inspirasi, aku rela jika harus mengalah darinya, aku bangga memiliki teman yang sangat visioner.

Tiba lah bangku sekolah menengah menjamput. Aku harus menggusur diri ke sebuah pesantren di kota sebrang. Tak jauh, hanya 2-3 jam tempuh perjalanan. Aku belajar beradaptasi, menangis ingin pulang, drama sakit tapi jauh dari orang tua, teman dari berbagai daerah, peraturan yang ketat, harus belajar setiap malam, harus menggunakan bahasa asing, dan cobaan-cobaan lainnya. Namun ada satu yang membuatku betah. Bagaimana guru-guru di pondok memotivasi kami untuk sukses, mananyai cita-cita si masa depan, membimbing agar aktif di luar kelas, mengarahkan kami untuk membuka wawasan seluas-luas nya. Dari sini, aku semakin yakin bahwa aku akan belajar di luar negeri kelak. Aku selalu mengingat kawan satu itu. Sudah sampai mana kah dia mengejar mimpi nya ?

Liburan datang, tak ada yang ingin ku jumpai kecuali dia. Aku ingin bercerita banyak, bertukar pikiran dan berbagi semangat. Namun, ketika ku tanya dia di mana. Salah satu temannya menjawab bahwa dia sedang berdua dengan pacar baru nya. Dia dijemput tengah malam, dan akan kembali pagi buta. Aku mulai bertanya bagaimana kegiatan di sekolahnya. Dia tidak fokus belajar, dia tidak juara kelas, dia juga tidak meneruskan olahraga seperti di Sekolah Dasar dulu, dia mulai bersolek, dan melupakan belajar bahasa asing. Setelah ku simak cerita sampai akhir, aku menyimpulkan bahwa dia tengah terlena dengan cobaan kecantikannya, dia direbuti banyak laki-laki.
Ketika bertemu, dia tak berbicara selembut dulu, dia melontarkan kata-kata kasar dan sedikit jorok, dia tak sevisioner dulu, dia kini adalah orang yang tak ku kenal. 6 bulan telah merubahnya total. Aku tak menyalahkan waktu, aku hanya benci, waktu singkat ini telah memisahkan ku dengan inspiratorku. Aku kehilangan motivator terbaik ku. Aku tersenyum hambar dan mulai meninggalkan kerumunan para bucin itu.

Aku termenung dan mencoba melupakan semua tentang nya. Tapi tak bisa, aku yakin suatu saat ada waktu yang berpihak pada cita-cita nya. Aku yakin ada masa seseorang melihat ke belakang untuk merancang masa depan. Aku yakin terkadang kita harus mundur selangkah untuk berlari lebih cepat. Aku memutuskan untuk tidak meninggalkannya. Aku hanya membuat jarak sejenak.

Betapa lingkungan telah merusaknya, betapa kawan justru menjerumuskannya, dan aku yakin sang Appa tak lagi hadir di sisinya seperti dahulu kala, sehingga ia seperti unta yang terlepas ikat talinya. Ini lah yang menghambat mimpi-mimpi nya terwujud.

Hari ini ia telah bahagia dengan dunia nya, menikah dan bekerja setelah melanjutkan jenjang SMA di salah satu pesantren. Aku yakin ia telah belajar banyak dari pengalaman hidup nya sebagaimana aku. Namun aku tak yakin apakah ia masih menorehkan cita untuk belajar di negri sebrang sebagaimana aku masih memimpikannya?
Tak perlu risau, dia tetap inspirator ku..

CEO of Coret,

FranshasFasa
Sabtu, 25 April 2020
Hari ke dua Ramadhan

Categories
Uncategorized

The Great Victory

Hello every one, i m gonna share the verse that we never aware before.. So please continue read it!

Kemenangan adalah sebuah harapan dan goals hidup setiap orang. Seorang atlet tidak dikatakan atlet sebelum dia memenangkan sebuah pertandingan besar di ajang nasional atau internasional. Seorang penulis tak akan terkenal sebelum buku nya menjadi best seller. Seorang akademisi belum diakui jika belum menyandang gelar sarjana, magister atau doktoral, bahkan profesor. Seorang hafidz biasa nya tenggelam jika belum tayang di salah satu stasiun tv sebagai qori atau memenangkan lomba ajang internasional. Inilah sebagian pandangan yang positif tentang sebuah kemenangan atau goals of life.

Sebagian yang lain banyak yang memandang hidup akan berarti dan kemenagan tercapai jika telah berlimpah harta, telah terkenal di dunia maya meski terkenal dengan hal hal negatif, telah menggeluti bidang yang disukai selama beberapa dekade, menikmati hobi yang dibayar meski jauh dari koridor ajaran agama, telah memiliki kedudukan di bangku pemerintahan sebagai pembuat kebijakan, telah menyiarkan banyak syair berseni tinggi alias bernuansa seksual, dan masih banyak lagi. Kemenangan selalu berkaitan erat dengan altualisasi diri di muka bumi.

Tak salah, namun ada kebenaran yang absolut tentang sebuah kemenangan. Jika kamu muslim, rileks lah sejenak dan pahami ayat-ayat Nya. Meski kamu seorang ibu rumah tangga yang belum sempat bereksis di dunia maya karena bertumpuk nya tugas negara. Meski kamu seorang pelajar yang tak kunjung selesai karena banyak amanah organisasi di pundak mu. Meski kamu seorang penghafal quran yang hanya berputar di juz yang sama karena Allah inginkan itu, bukan karena kemalasan mu. Meski kamu seorang yang untuk makan pun harus berpikir setiap hari, tak memiliki rumah sendiri, ingin duduk di bangku kuliah tapi terhambat oleh materi. Maka mari menunduk sejenak, dan renungi kalam ilahi ini.

ومن يطع الله ورسوله ويخش الله ويتقه فألئك هم الفائزون…

“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada Nya, mereka itu lah yang mendapat kemenangan”

(An-Nur : 53)

Sebuah surat cinta yang ingin Ia sampaikan pada siapapun yang tak meragukan Kalam Nya. Bahwa dibalik bergelimang nya harta harus ada proses yang sesuai aturan Nya, jika kamu berhasil, maka kamu menang. Di balik sampainya kamu ke kursi panas pemerintahan, jika dengan suap dan serangan fajar, maka kamu adalah pecundang. Boro boro menang, tapi nanti di akhirat payah dan kepalang. Dan jika di balik segala kegagalan di mata manusia, ada ketundukan, tak terima materi haram atas dasar ketakutan pada Nya, sesungguhnya kamu lah pemenang yang sebenarnya. Segala kekuranganmu akan sempurna jika dibalut kain taqwa. Segala keciutan mu akan berwujud mahkota jika itu karena meprioritaskan aturan Nya. Segala bentuk kemegahan dunia tak akan bernilai jika barometer kesuksesan mu adalah mencontoh Rasul Nya.

Maka hilang kan rasa khawatir yang berlebih, tapi tingkatkan taqwa dan mari menjadi the great champion sesuai keinginan Nya. Karena kita hanya seorang hamba. Ia hanya ingin kan yang taqwa bukan yang menjual diri untuk dunia.

Tasikmalaya, 3th of Ramadhan 1441 H

May Allah bless you

Ceo of Coret

Categories
Uncategorized

Hembusan Hikmah Dari Serambi Mekah

27 Juli 2019, kami terbang ke tanah yang sempat kami dambakan. Dan sekarang juga kami masih mendamba untuk bisa kembali mengunjungi nya, Nanggro Aceh Darussalam. Kota yang terkenal memiliki qonun tersendiri, syaria’t islam yang terealisasi, dan makanan khas yang kaya akan rempah produk alam dalam negeri. Beribu tanya berkeliaran, berjuta asa dikumpulkan, dan cita dimantapkan, tak lupa doa yang tak henti dilangitkan. Iya, sangat mendebarkan!! Tujuan sampainya kita di sana adalah menapaki bumi menuju perjalanan luar biasa bersama sang pencipta. Maka Best Official kami menuliskan di punggung kami “Amazing Adventures With Allah” agar tak lupa pada tujuan awal perjalanan ini.

Dalam degup jantung yang tak beraturan, kami sampai di Bandara Kuala Namu. Hati ini hanya bergumam, one step closer menuju Aceh. Semakin berdebar dan menegangkan kala melihat banyak orang yang memiliki destinasi yang sama. 5 jam menunggu penerbangan selanjutnya. Menit berlalu seakan begitu lama. Namun seketika itu terlupa karena fasilitas bandara yang luar biasa. Theater mini dan permainan di bandara mengalihkan dunia kami. Seketika itu pula aku berpikir betapa hiburan begitu mudah didapatkan. Namun apa daya, mari nikmati sejenak untuk mengurangi adrenalin yang meninggi kala mengingat tanah Aceh tempat berkompetisi. Tiba waktu menonton film yang telah dipilih, aku memutuskan untuk sejenak memejamkan mata karena mubahnya tidur sepertinya lebih bermakna. Sampai di sana, kami bergegas memenuhi panggilan, ternyata pesawat mini kita sudah siap menerbangkan puluhan orang menuju kota impian.

Tak disangka, kami telah tiba. Sebenarnya perjalanan kita ke kota ini adalah untuk mengikuti sebuah even nasional yang diadakan oleh Kemenristekdikti dalam 2 tahun sekali yaitu Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasianal ke 16. Diikuti sebanyak kurang lebih 230 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dengan 2.484 Mahasiswa. Tahun ini, MTQMN ini diprakarsai oleh Univesrsitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Namun mengapa perjalanan ini kami namakan berbeda, karena hakikatnya MTQ ini adalah ajang mencari ridho Allah, mencari hikmah yang berserakan namun seringkali tak disadari, mencari jati diri, potensi diri, dan perjalanan mengenal kekuasaan dan ke-Mahabesaran Sang Ilahi. Maka pertama menginjakan kaki di bumi ini ingin rasanya bersujud, menandakan syukur karena telah berada di belahan bumi lain yang akan mengajarkan kita banyak rasa. Namun niat itu tak kunjung terealisasi karena panitia sudah dengan sigap menyambut kami dengan gendang dan musik khas Aceh, mengalungi ofisial dengan bunga beraroma pekat, lalu menyalami kami dalam rangka memberi apresiasi atas partisipasi kami. Tak lupa foto bersama para icon putra putri terbaik Aceh adalah koleksi wajib bagi setiap smartphone para delegasi.

Tak terasa, udara sudah berbeda. Mentari sore sangat gagah menerangi. Tak ada awan yang melindungi, namun angin tak kalah gagah menyaingi sinar matahari. Langit tersenyum sumringah, pepohonan tinggi, dan ladang di sepanjang pandangan mata sempurna membuat kami merasa berada di alam yang berbeda, di tambah waktu shalat yang satu jam lebih lambat berhasil menjadikan suasana ini tak ingin cepat berlalu. Dipertemukan dengan orang baru pun adalah satu hal yang patut disyukuri karena menambah alasan untuk tidak berhenti berbagi. Kami diajak untuk berkeliling sebelum menuju asrama peserta, dengan tujuan untuk sedikit berkenalan dengan pusat kota bersejarah ini. Tiba shalat maghrib kami menunaikan sholat dan sejenak beristirahat sambil menunggu adzan Isya. Seselesainya shalat isya, tak ada lagi yang ingin dilakukan kecuali mengisi perut yang sebenarnya tidak lapar, hanya saja tak tahan menahan rasa penasaran pada rasa Mie Aceh yang sudah menggoda. Dan benar saja, menakjubkan, rasa yang sangat berbeda. Tak ada gurih yang berlebih atau kuah yang terlalu berlemak. Yang ada adalah kental bumbu rempah yang membungkus mie dengan sempurna, rata. Lembutnya mie ini dan rasa pekat adukan bumbu dicampur asamnya perasan jeruk nipis dan segarnya irisan bawang merah ditambah keriuk emping lezat membuatku lupa bahwa lazim nya makan adalah perlahan lahan agar lebih elok dipandang, apalagi aku adalah perempuan. Aku segera melahap secepat yang aku bisa. Entah bagaimana dengan yang lain. Tapi semua menikmati, meskipun ada yang lebih nikmat dari cicipan pertama ini di hari hari terakhir perjalanan kami. Cukup cukup, kami baru sadar bahwa kini telah larut. Waktu menyerahkan diri pada panitia pun sudah tiba. Kami beranjak dengan bahagia, karena mie aceh tadi selain enak dimulut juga enak di kantong, teman baru kami berbaik hati. Somoga Allah membalasnya.

Tibalah saat memetik hikmah dari jantong hatee rakyat Aceh, Unsyiah! Entah berapa lama mereka harus menyiapkan even besar ini. Namun harus jujur ku katakan, seakan mereka lupa bahwa yang hadir di sini adalah mereka yang ingin berkiblat meneladani kampus ini. Mungkin mereka sudah berusaha semaksimal yang mereka bisa, namun tak bisa dipungkiri, bukan sekali dua kali semua peserta dibuat dongkol hati karena hal sepele yang tak pasti. Dari mulai Technical meeting yang tidak menghasilkan keputusan, simpang siur peraturan, miss komunikasi antara panitia dan hakim sehingga harus dibentuknya grup per cabang lomba yang melibatkan seluruh mahasiswa bisa bertanya dan berkomentar bebas di sana. Hal ini memicu amarah setiap orang khususnya panitia, muncul lah ketidakbijakan dalam menanggapi komentar atau dalam menjawab pertanyaan. Mulai lah syura internal setiap kafilah dilaksanakan untuk mengantisipasi ketidakpastian setiap peraturan dari panitia. Tak dipungkiri ini menguras pikiran dan mengurangi fokus. Ditengah perlombaan beberapa peserta dari berbagai cabang mencoba meminta tranparansi nilai, karena setiap delegasi ingin mengetahui sejauh mana usaha mereka menghasilkan point. Namun direspon tidak menyenangkan bahkan ada bahasan yang seharusnya tidak diketahui peserta namun bocor begitu saja, dan memuncaklah, sehingga muncul perbandingan MTQMN dua tahun lalu dengan MTQMN sekarang dari segala aspek. Yang paling terasa adalah, minimnya panitia di setiap venue perlombaan. Bahkan tim dokumentasi pun sepertinya berganti gantian dari setiap delegasi yang tampil. Live Instagram bisa diakses justru dari akun akun universitas yang berpartisipasi. Bukan dari panitia. Hal hal ini mengajarkan kami bersama bahwa betapa penting berkomunikasi dengan baik, memiliki EO yang kompeten, dan jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Untuk menyongsong terselenggaranya segala pelaksanaan minimal sesuai peraturan yang ditetapkan. Kreativitas? menyusul.

Namun mari melupakan segala hiruk pikuk menyebalkan itu, karena Unsyiah begiti luar biasa di hati aku pribadi. Mereka memiliki budaya yang patut dijadikan bekal untuk univ univ di mana pun. Mereka konsisten dalam mengurangi sampah plastik. Semua mahasiswa wajib memiliki tumbler, di setiap sudut kita akan menemukan galon untuk mengisi tumbler tersebut. Budaya ini diterapkan pada semua peserta MTQMN 16. Mereka juga sangat ketat mengawas setiap tong sampah dan memastikan peserta telah memisahkan sampah plastik, organik, dan sampah kardus atau sejenisnya yang bisa didaur ulang. Hebat gumamku. Berkali kali ingin kabur dari pemilihan sampah itu, tapi tak bisa. Sia sia, kita hanya akan mendapat malu karena dipanggil untuk kembali mempertanggungjawabkan sampah masing masing, serasa di yaumul hisab. Mereka juga sangat peduli ketika ada kerusakan di asrama, keluhan akan keringnya air, kamar bocor, atau kurangnya peralatan kebersihan. Meskipun tidak secepat yang diharapkan, setidaknya mereka bergerak dan peduli. Tak lupa mereka juga seringkali menyapa dan melontar senyum pada peserta ketika memberi intruksi atau sekedar bersapa di lantai dasar asrama. Dan yang paling berkesan adalah memiliki LO yang sangat gesit dan enjoy untuk diajak berdialog tentang apapun. Usia mereka di bawah kita, Decy masih semester 5 Tehnik Industri Unsyiah dan Ikbal semester 2 Kedomteran Hewan Unsyiah. Di testimoni Ikbal, dia mengungkapkan kebanggaannya menjadi LO dari orang orang yang open minded, terbuka dan banyak pengalaman. Yang menarik dari testimoninya adalah filosofi hyaena yang dia jelaskan dengan gamblang. Dia bilang, “ketika ujian kemarin, hyaena mengingatlan ikbal sama kalian. Jadi hyaena itu kan hewan yang memiliki kaki belakang yang pendek, dia sebenarnya susah untuk mencari makan jika mengandalkan tubuh lemahnya bahkan dia tidak bisa terbaring dengan baik. Tapi yang menjadi kekuatan dia adalah bergerombol, mereka kuat karena mereka bersama. Begitupun di sini ikbal sebenernya sedih, delegasi UAI gak ada yang lolos final, tapi kesedihan menjadi berkurang karena kita bersama sama. Terus hyaena juga terkenal dengan kepekaan nya terhadap saudaranya, bukan hanya saudara sedarah nya, tapi misal nih ada ponakannya, sepupunya heyna akan melindungi nya dan berbagi makanan. Ini mengingatkan ikbal pada tugas MTQMN selanjutnya, jadi kita punya gambaran bahwa kita harus pulang membentuk generasi berikutnya, membimbing mereka dan memastikan mereka berhasil, meskipun mereka bukan saudara sedarah kita”. Tak heran jika tepuk tangan menjadi musik pengiring testimoni ikbal. Dia cerdas, bisa membaca banyak hikmah dibalik semua peristiwa. Sayang nya Decy tak ikut serta memberi testimoni, aku penasaran pengalaman kita akan dianalogikan seperti apa oleh anak teknik industri. Tapi intinya Unsyiah dan Mahasiswanya memberi banyak bekal perjalanan untuk masa depan, baik dari hal positif atau pun negatif.

Unsyiah sangat luas, kendaraan yang disediakan panitia sangat terbatas. Jadi kendaraan alternatif kami adalah Becak ojek. Cukup unik dan nyaman digunakan. Selain terasa sepoy angin yang segar, naik becak ojek juga bisa romongam sampai 4 orang tapi hemat. Muatannya hampir sama seperti taxi, meskipun harus berkorban lutut ketemu lutut. Tapi justru itu yang menjadi sensasi tersendiri. Selain itu, abang abang ojek becak juga sangat ramah dan sering bercerita, membuat kami merasa sedang berwisata dengan ditemani tour guide handal. Tanpa sadar kita sudah sampai di tempat tujuan. Selain itu, ada kijang legendaris yang menemani kami selama di sini. Kijang milik sohib dosen kami yang sudah tak dipakai berbulan-bulan. Jangan heran dengan penampilan dekilnya, lampu sen yang gak mati-mati, dan pintu yang tidak rapat saat ditutup menantang pengemudi untuk berani dan percaya diri dengan segala kekurangan mobil ini. Gas pertama, dia mati. Gas kedua masih mati, Gas selanjutnya dia bisa diajak kompromi bahkan bersahabat kemanapun kami beranjak. Bahkan suatu hari dia merengek manja mencari perhatian dengan mengunci semua sudut pintu, membuat semua orang panik dan kebingungan. Tapi aku mengerti, dia hanya ingin kita bersatu mencari jalan dan solusi bersama tanpa ada perpecahan. Aaakh mengesankan, sepertinya masih banyak yang tak mampu tergambar dengan kata kata.

Oh ya, ketika mendengar kota Aceh, semua orang pasti menyarankan minum kopi di sana. Dan ya benar, setelah makan mie aceh, yang ingin aku cicipi adalah kopi gayo. Dan mantap jiwa! Maa syaa allah, kopi nikmat yang manis tapi lebih dominan pahit dan asem itu terasa lebih nikmat saat disantap di sore hari. Porsi yang tidak banyak membuat aku ingin menambah. Tapi sayang kopinya tidak terbalik seperti yang diceritakan orang-orang. Ya.. tak apa, sing penting yo rosone ndo! Selain itu, ada menu yang tak kalah nikmat, sate matang. Sate kambing khas daerah matang. Bumbu kacang yang wangi dan sop kambing harus dikolaborasikan sehingga mencipta rasa yang begitu lezat. Yang membuat lezat itu bagiku hanya satu, tidak ada bau atau rasa kambing sama sekali. Tekstur daging nya berbeda dengan sate kambing kebanyakan yang tak pernah sanggup kucicipi karena bau yang sudah menyengat dari jarak 10 m dari hidung, ups berlebihan ya.. Hehe. Kemudian menu teraneh adalah telor setengah matang. Aku tak sempat memesan, tapi mencoba mencicip dari pesanan kawan. Dan itu membuat aku ketagihan. Hampir di setiap tempat makan aku pasti bertanya, “ra, ada telor setengah matang?”. Apa sebenarnya yang menarik dari telor itu? Kebanyakan orang akan enek mendengar telor setengah matang. Apalagi jika melihat langsung, karena menurutku itu lebih tepat diberi nama telor mentah. Karena memang hanya dimasak sebentar saja sehingga ketika dikocok sama persis seperti adonan telor dadar, bedanya putih telurnya tidak lengket dan tidak bau. Telor ayam kampung ini sebenarnya sering juga dikonsumsi orang jawa dan betawi, tapi yang menarik di Aceh adalah bumbu garam dan lada yang ditabur lalu diaduk bersama membuat rasa telor setengah matang tidak membuat mual. Justru sangat nikmat dan menyegarkan badan. Sangat manjur untuk yang masuk angin. Ah pasti menjengkelkan mengingat singkat perjalanan.

Membaca tulisan ini kenapa seakan kami hanya berlibur di Aceh? Oh tidak! Drama sebelum datang ke tempat makan bermenu telor setengah matang sangat menyedihkan. Hari itu adalah hari dimana aku dan satu teman ku tampil, di samping dua tim debat yang memang perfom setiap hari untuk babak penyisihan. Kami mempersiapkan apa yang bisa disiapkan. Ada perjalanan spiritual yang tak pernah terlupakan di momen ini. Katakan saja ini pengalaman terburuk yang pernah ku alami. Merasa sangat tertekan dan takut bahwa Allah akan menghukumku di atas kursi panas perlombaan pun terjadi. Dan itu panjang sekali ceritanya. Nantikan di tulisan selanjutnya ya, sengaja ku pisahkan karena kisah ini harus dibungkus berbeda menjadi genre motivasi dan sejenisnya lah. Singkat cerita, aku hanya bisa menangis seharian mengingat begitu buruknya performance ku hari itu. Ditambah banyak faktor lain yang begitu membuat ku rapuh serapuh rapuhnya. Tapi bukan ini yang ingin kupetik hikmah di sini. Melainkan dalam keadaan terburuk kita, mencoba mengalihkan rasa sedih menjadi rasa syukur adalah hal yang begitu berat. “Bangkit itu memerlukan perjalanan yang panjang” kata Roni. Dan ya, benar! Perlu menguras air mata untuk menggali hikmah dari berbagai suratan takdir yang tak sesuai harapan. Setelah kita sadar bahwa tidak ada yang lebih baik selain pemberi takdir itu, kita akan merunduk memuji dan mencintai Nya sepenuh jiwa. Pertanyaan nya bagaimana mempersingkat masa terpuruk sehingga cepat bermetamorposa menjadi sikap syukur yang menginspirasi. Di sini lah aku ingin berbagi, memilik kawan yang begitu mengerti adalah senjata utama. Ketika air mata tak mampu terbendung, teman teman menjauh membiarkan semua emosi terekpresi sebebas mungkin, mereka mengerti aku bukan orang yang kuat dan sangat butuh sandaran tapi membiarkanku lebih dipilih karena waktu lebih berhak mendengar segala keluh dan kesah, menjawab segala tanya yang ada, juga waktulah yang akan menghantarkanku pada mereka untuk kemudian berbagi, sehingga apapun respon yang ada, tak akan menyakitkanku karena waktu telah meengambil semua emosi itu. Ya begitulah cara ku. Tak cukup sampai di situ, kita perlu pendukung dan pengembali semangat. Aku mencoba berkomunikasi, berdamai dengan diri dan berbagi dengan sobat sekamar yang sedari pagi berdoa untuk kelancaran hari kami semua. Di sanalah kita mulai saling menguatkan, mencari pencerahan bersama dan yang paling akhir adalah menghubungi orang orang tercinta di rumah, Ibu yang tak berhenti memanjat doa, kakak yang hanya bisa membuat tertawa dan lepaslah segala sesak, berubah menjadi rasa syukur tiada tara. Kawan dan keluarga yang ada adalah harta berharga yang tak pernah bisa terganti oleh apapun di dunia, terlebih jika mereka mendekatkan kita pada sang pemilik jiwa. 180 derajat, keterpurukan itu menjadi rasa syukur yang memuncak. Sehingga tak ada alasan untuk mengeluhkan segala sesak yang dirasa.

Huft, berkisah ternyata melelahkan. Dan lelah itu menyenagkan. Jadi, mari melanjutkan kisah perjalanan. Banyak yang sempat merasakan apa yang kurasakan. Meskipun kami memiliki seribu alasan yang berbeda tapi situasi kami sama. Hari pengumuman finalis 8 besar membuat kami kehilangan satu hari untuk menikmati udara segar Aceh. Suasana ini mencekam, hampir semua kecewa dengan keadaan yang ada. Kecewa akan hasil, kecewa karena ada yang kecewa, kecewa karena merasa ada ketidakadilan, dan lain nya. Bahkan kecewa pada diri sendiri juga terjadi pada hari itu. Namun di akhir hari kita mampu mendobrak segala rasa dan mulai membangun komunikasi, saling menguatkan satu sama lain. Meskipun belum bangkit secara total. Kami mencoba memotivasi diri masing masing. Dan ada yang lebih dalam masuk ke dalam hati ketika ofisial kami mengutarakan secara jujur akan keadaan ini. Beliau menyampaikan bahwa kemenangan sesungguhnya ada di hadapan kita, perlombaan sesungguhnya belum berakhir, dan tugas-tugas kita baru saja dimulai. “Bayangkan, jika kita sumpama menang di sini, tapi orang-orang di sekitar kita masih berserakan yang tidak bisa membaca quran, di kampus kita bisa mengaji masih menjadi syarat kelulusan, dan kita abai dengan itu?? Jadi apa makna kemenangan itu sebenarnya??”

“Saya justru lebih banga jika kalian menunjukan kepedulian kalian kelak di kampus terhadap hidupnya suasana qurani, jiwa kompetisi yang lebih tinggi, sehingga mulai melakukan regenerasi menyiapkan adik adik untuk berjuang lebih baik”

“Dan yang paling inti adalah keterbukaan pikiran kalian untuk menikmati perjalanan jauh ini, lelah kita dalam perjalanan ini harus kita jadikan ajang silaturrahim dengan banyak orang dari seluruh Indonesia, mengambil bekal dan pelajaran, berbagi dan peduli meski tidak dalam almamater yang sama, sehingga kelak pengalaman ini menjadi bekal bermualah dengan masyarakat yang lebih luas”.

Mendengar nasihat ini, kami mulai membuka pikiran, mata dan hati. Kami kembali sibuk membijakan diri dan mencari arti hidup yang sesungguhnya. Kemudian mencari destinasi selanjutnya untuk menumpah segala kekecewaan yang sempat singgah, dan menyatukan energi positif bersama agar tercipta karya dan kenangan yang nyata.

Musium Aceh, adalah sestinasi pertama. Kekayaan budaya tergambar jelas di sana. Suatu saat kita harus menemukan rumah, perkakas, dan segala bentuk asli dari miniatur-miniatur itu. Cara nya? Ngetrip ke semua penjuru Aceh. Haha. Selanjutnya, Musium Tsunami. Ridwan Kamil berhasil membuat semua orang yang masuk ke dalamnya beristigfar dan mengingat bahwa kematian ada tepat di hadapan kita. Bahwa manusia adalah makhluk kecil tak berdaya, tak ada celah untuk bersombong ria, apalagi mengatur alam semesta. Menjadi Khalifah fil ard terasa begitu berat seketika, mengingat banyak kewajiban yang tak tertunaikan dengan baik, hak-hak yang tak terpenuhi, namun banyak nya keinginan diri yang diikuti. Tak cukup sampai disini. Sejarah begitu jelas terekam ketika kami datang ke PTLD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung di Desa Punge, Blancut, Banda Aceh. Sesuai namanya, kapal ini merupakan sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue – tempat kapal ini ditambatkan sebelum terjadinya tsunami. Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton, tidak ada yang membayangkan kapal ini dapat bergerak hingga ke tengah Kota Banda Aceh. Ketika tsunami terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, kapal ini terseret gelombang pasang setinggi 9 meter sehingga bergeser ke jantung Kota Banda Aceh sejauh 5 kilometer. Kapal ini terhempas hingga ke tengah-tengah pemukiman warga, tidak jauh dari Museum Tsunami. Hal ini cukup menyadarkan kita bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari 11 orang awak dan beberapa warga yang berada di atas kapal ketika tsunami terjadi, hanya satu orang yang berhasil selamat. Fenomena pergeseran kapal ini menunjukkan kedahsyatan kekuatan gelombang yang menimpa Serambi Makkah kala itu. Dan Ya begitu mengerikan membayangkan berada di tempat kejadian ketika tsunami berlangsung.

Destinasi selanjutnya adalah yang paling ditunggu, memburu sunset di pantai Lampuuk. Karena satu hari kemarin kami tak berdamai dengan banyak hal maka kami kehilangan kesempatan untuk menikmati titik 0 Kilometer di kota Sabang. Tak apa, pantai Lampuuk juga indah, berhasil menghilangkan pertikaian, melepas berbagai emosi negatif, dan menyatukan kami kembali untuk bersinergi menentukan langkah masa depan yang pasti.

Kenangan disini begitu banyak, cerita indah selalu ada, kekonyolan bahkan menjadi pekerjaan kita. Tak terhitung berapa banyak varian rasa dicoba, sebanyak itu pula jutaan hikmah terselip mengiringinya.

FranshasFitri.

Berteman bintang yang tertutup polusi Jakarta. Dilanjutkan bersama segar embun pagi.

Jakarta, 8 Agustus 2019.

Categories
Uncategorized

Berlomba lari dengan waktu

Maraton, kata yang membuat hampir semua orang merasa lelah mendengarnya. Lari dengan garis start yang ditentukan dan garis finish yang menetukan. Kita dituntut untuk lebih cepat dari yang lain, lebih kuat, dan lebih memperhatikan waktu yang digunakan untuk jarak tempuh tertentu. Semua orang berlomba lomba mendapatkan yang terbaik yang telah disaembarakan. Itu wajar!

Olimpiade matematika, fisika dan ilmu eksak lainnya menjadikan seseorang dipandang hebat jika mampu menyelesaikan soal dengan baik dalam waktu yang paling sedikit. Dia akan terkenal ber-IQ tinggi dan mampu memecahkan masalah dengan baik. Mengharumkan nama bangsa, dan juga mendapat penghargaan dari semua kalangan usia.

She’s a best singer of the year, ya! Itu membanggakan. Menakjubkan dan yang paling penting itu membuat kaya gaes, alias berlimpah harta. Karena itu adalah karya. Mendalami hobi yang dibayar adalah impian terindah dalam hidup setiap orang.

Namun apa kabar dengan orang – orang yang berleha dan terlena dengan segala kesibukan unfaedah nya?? Mereka lupa pada karya, lupa pada usia, dan lupa akan masa yang terus meninggalkan nya jauh ke depan. Mereka tidur lebih banyak, belajar sekadarnya, bermain gadget seharian, atau hanya tertawa tanpa harapan.

Ada yang berkata, biar kan mereka tenggelam dengan kebiasaannya. Semua akan menuai apa yang ditanam. Namun untuk itukah kita diciptakan? Bukan! Kita ada untuk saling mengingatkan, saling merangkul dan saling mendukung. Maka katakan pada mereka yang berleha itu, berlomba lah dengan waktu! Karena sesungguhnya mereka yang telah berhasil mendapat apa yang diinginkan hanya cukup menyadari bahwa waktu terus berjalan ke arah yang sama dengan tujuan nya. Hanya tinggal menunggu siapa yang lebih cepat?

Cobalah untuk memasang stop watch pada setiap pekerjaan. Pastikan tidak ada waktu emas yang tercuri oleh lamunan tak berguna. Hadirkan fokus ketika berpikir. Dan lupakan semua kecuali tujuan!!

Ajaklah diri untuk bergegas ke garis start terdekat, berlarilah lebih cepat dari waktu, kuatkan diri agar tak kalah dengan waktu yang tak pernah sakit, hidupkan semangat untuk menopang gundah gulana karena hal hal sepele. Dan ciptakan bahagia untuk meyakinkan diri bahwa tujuan kita benar.

Semangatlah wahai diri!!!

Waktu akan mengalahkan mu, kejarlah! Karena tak ada kata terlambat untuk leih baik.

Franshas,

CEO of CoRET

Categories
Uncategorized

Lelah

Sukses adalah ejaan dari rasa lelah. Lelah dalam mengejar cita cita, lelah membahagiakan orang orang tercinta, lelah dalam menyebarkan kebaikan, dan lelah dalam memperbaiki diri menjadi hamba terbaik Tuhan.

Kita memang tercipta untuk beribadah. Beribadah bukan lah susah, namun kita yang selalu merasa lelah, waktu dan tenaga belum juga terkuras hanya saja jiwa memasrah dan menyerah.

Kita bukan orang buta yang meraba jalan, namun kita buta akan segala hikmah dari cobaan dan ujian.

Kita bukan orang bodoh yang tak belajar, hanya saja kita tak tau malu dan kurang ajar. Padahal apa salah Tuhan memberi potensi, kita abaikan dengan mengemukakan alasan penuh ekspresi.

Jangan menangis hanya mengeluarkan air mata. Itu hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Keluarkan segala keluh dan kesah tanpa bicara. Dan singsingkan lengan baju untuk keras bekerja.

Hari ini semua penduduk langit melelah, untuk bertasbih dan menyambut hamba hamba yang penuh resah, dengan dosa yang terus bertambah, namun sisa usia tak kunjung baik dan berkah.

Tak ada yang hidup dalam kenyamanan abadi, kecuali orang orang yang ikhlas penuh untuk mengabdi. Mengabdi pada Sang Pemberi, dan Penyembuh dari segala duka dan nyeri hati.

Lelah selalu ada dalam kata, padahal terkadang rahmat tak selalu terdengar ditelinga. Lelah selalu dituntut berupa bukti nyata, padahal pahala tak selalu kasat mata.

Tak bisakah kita mencoba menikmati lelah dengan ejaan rasa?? Kita kumpulkan dan rangkai menjadi bait bait cinta. Untuk kita bagi dengan siapapun yang ingin merasa bangga, bahwa kesuksesan telah bercahaya dan akan segera menjelma.

Selamat mengeja rasa lelah.

FranshasFasa

CEO of CORET

Jakarta, 4 Mei 2019.

Dalam kelabu malam tak berbintang.

Categories
Uncategorized

FILOSOFI KIPAS ANGIN

BLOG 1Hari itu begitu gersang, entah matahari yang terlalu terik, atau jiwa yang teramat amarah sehingga membuncah dan melelehkan keimanan kemudian meradang melemahkan fisik dan memunculkan rasa malas. Malas untuk berkarya, malas untuk berinteraksi sehat, malas menunduk dan bersujud, malas bersua dengan barisan-barisan shalihin dan shalihat. Seakan-akan semua hampa, tanpa arah dan tujuan dan tak ada oksigen sebagai bekal napas kesuksesan.

Shalat hanya sebagai pemenuh kewajiban, lupa bahwa segalanya bermula darinya. tilawah tak lagi tertargetkan, hanya sekedar formalitas dan tampang gaya dan eksis kemusliman semata. Sedekah bahkan tak terpikirkan, apalagi mengunjungi Baitullah tak lagi tersinggung dalam do’a.

Ternyata hal itu melelahkan, berlama-lama dalam pusaran itu bisa membuat manusia gila, karena hal itu bukan bagian dari tugas nya. Bukan bagian dari tujuan penciptaannya, melainkan bawaan hawa nafsu dan godaan syaithon yang dibuat indah pada awal nya, namun akan tersesalkan kelak ketika terjerumus lebih dalam kemudian setan tertawa terbahak-bahak dan berlepas diri dari yang manusia lakukan. Bejat memang syaithan itu, musuh nyata yang tidak menginginkan apa-apa dari manusia kecuali keburukan. Pencarian pun dilakukan, bagaimana keluar dari pusaran ini.

Siang terik ini, sembahyang dzuhur dilakukan oleh setiap muslim, termasuk aku yang tengah terdiagnosis gontai keimanan. Shalat ini seakan semata memenuhi kewajiban. Shalat telah tertunaikan, disamping ku kawan sejawat tengah khusyu berdzikir, sedang aku hanya mengamati tanpa membasahi bibir dengan kalimah tayyibah Nya. Tangan ku mulai bermain meraba-raba sekitar, kemudian kutemukan sakral dimana tercolok kipas angin disana. Sengaja ku cabut dari sakral nya yang otomatis kipas pun berhenti. Semua bisa menebak jika matahari terik membakar ruangan tanpa ventilasi dan tak terdapat angin buatan kipas di sana akan menimbulkan kecemasan pada penghuni ruangan. Dan itu pun terjadi pada kawan ku yang tengah dzikir. Ia mulai membuka mata dan menatapku yang tengah nyengir menunjukan gigi kuning ku. Ia menajamkan mata pertanda menyuruhku menghidupkan kipas. Aku tersenyum dan membuang muka. Lalu dia mulai bersuara, “Nyalakan kipas”. Aku tersenyum jahil pertanda tak ingin mengikti perintah nya. Ia pun mulai menaikan suara pada sol bahkan si doooo. Ia mengangkat tubuh menuju saklar tapi aku masih menghalangi sampai lah pada puncak ia mengangkat tangan dan mendaratkan nya di lenganku. Sakit, gumam ku. Lalu aku spontan menghubungkan kabel pada sakral dan kipas pun menyala, kemudian kami tertawa lepas, dan mulai mencair seperti semula. Namun aku merenung dan mencoba melihat fenomena ini.

Ternyata, kipas ini Allah kirim untuk menganalogikan kehidupan ku hari ini. Aku malu, hari ini masih bermain-main dengan patologi jiwa yang dibawa syaithan, dan aku tak mampu keluar. Dan hari ini Allah beri jalan bahwa pada inti kehidupan di zaman ini aliran listrik sebagai sumber hadirnya air, hadirnya cahaya, dan hadirnya komunikasi jarak jauh. Ketika koneksi listrik ini terputus, maka banyak yang akan kehausan, sulit belajar dan mencari penghidupan. Yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya kriminaalitas, saling merasa memiliki materi dan sampai pada puncak melupakan pencarian solusi dan gagasan dan berakhir pada keterpurukan. Padahal yang seharus nya dilakukan adalah menjaga sumber kehidupan ini bersama-sama sampai tak terjadi kesenjangan.

Maka koneksi pada Allah lah yang menjadi solusi dari kegersangan di atas. Ketika terputus, maka pintu syaithan terbuka, ia mengendalikan kita dan jalan keluarnya adalah kembali pada koneksi itu kemudian memperkuat, menjaga, dan percaya bahwa lambaian-lambaian syathan itu hanya kumpulan buih di lautan, terlihat banyak namun sebenarnya ia sedikit karena tak memberi manfaat, hanya seperti patung kaum ibrahim, terlihat kuat namun tak mampu apa-apa, karena kita lah sang penetu segala langkah.

Mari menjadi pribadi yang menjaga koneksi pada sumber kekuatan, Yang Maha Kuat.

 

Franshas,

CEO of Coret

Categories
Uncategorized

Betapa tangan kaku ini mulai merindu

Aku tak bertangan emas yang mampu menjadikan kata seakan berbicara

Atau bertangan besi yang kuat mengetuk pintu2 kedurjanaan agar hancur

Bukan pula tangan gemulai yang mampu dengan mudah merubah asa menjadi gincu gincu pengecut.

Aku hanya rindu pada untaian kata yang kirang bermakna namun seringkali membuatku bangga.

Aku rindu pada ekspresi dari segala emosi yang dirasa

Aku juga rindu pada suara bisu namun ditemni senandung gesekan tangan yang sibuk menyampaikan maksud kediaman itu.

Aku seorang pemimpi tanpa realisasi

Tapi meyakini keagungan ilahi yang suatu saat mengambulkan khayalan2 para pemimpi..

Jakarta, 24 september 2018

Firts day class

And will be continues..

Franshas,

CEO of CORET

Categories
Uncategorized

Lelah dengan tenang

Adakah di antara kita yang setiap hari sulit mencari waktu hanya untuk tidur sejenak karena padat nya aktivitas kita? Pasti! Semua orang pernah mengalami hal ini. Meskipun ada yang hanya mengalaminya tahunan ketika memyiapkan hari raya atau bulanan bahkan mingguan. Dan yang paling ekstreme adalah yang kesehariannya memang sudah terbiasa dengan kepadatan aktivitas sehingga tak ada kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang kurang bermanfaat. Dia senantiasa mencari detik atau menit yang bisa memanjakan mata nya untuk terlelap. Hebat bukan?? Semua orang patut mengapresiasinya karena optimalisasi waktu yang maksimal dari siapapun yang mampu melaksanakannya dengan baik. Karena salah satu indikator kesuksesan seseorang adalah optimalisasi waktu yang tersedia.

Namun apakah itu benar adanya? Mari kita cek..

Saya teringat ketika seminar dan kuliah umum kepemimpinan dan kewirausahaan di Universitas Al azhar Indonesia saya ditanya tentang apa itu sukses. Saya dengan lantang menjawab bahwa “sukses adalah ketika seseorang bisa memaksimalkan potensi yang diberikan dan mengoptimalkan waktu yang tersedia” diiringi tepuk tangan meriah peserta seminar tanda setuju dan bentuk apresiasi. Namun ternyata oh ternyata hal itu salah. Meski gak totality salah. Kenapa salah??

Semakin hari pengalaman, ilmu dan kecakapan kita semakin bertambah. Dan hari ini kita melihat ada hadits yang mengatakan bahwa “Niat seseorang lebih baik dari pada amalannya” dengan kata lain seseorang yang telah meniatkan kebaikan namun tak jadi melakukannya karena suatu udzur itu lebih baik daripada banyak melakukan hal namun tak diniatkan apa-apa. Dari sini saya memahami bahwa kesuksesan itu hadir ketika perbaharuan niat selalu dilakukan dalam setiap aktivitas yang dilakukan dengan ihsan. Bukan berapa banyak aktivitas aktivitas yang dilakukan tanpa niat. Karena niat adalah bahan bakar ruh, semangat dan optimisme bekerja kita.